Archives for category: travel

Assalammualaikum Wr, Wb.

hai guys, ga terasa yah sebentar lagi kaum muslimin akan menjalani ibadah puasa, nah persiapan apa saja yang sudah kawan lakukan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan bagi kaum muslim di dunia ini?? Yang pasti hal-hal positif donk yang sudah dipersiapkan oleh kawan semua.

Kita bahas kuliner aja yuk guys, nah di kabupaten Kendal, Jawa Tengah yang merupakan kota satelite penyangga ibukota Semarang ini, ada tradisi yang cukup unik setiap memasuki bulan Ramadhan, tentunya dalam hal kulinernya nih.

makanan tersebut berasal dari "telur ikan mimi" dikalangan masyarakatnya merupakan makanan wajib saat bulan puasa. Bahkan sebelum ramadan tiba, masyarakat Kaliwungu, Kendal berburu makanan ini. Mereka juga rela berdesak-desakan dengan warga lainnya agar mendapatkan telur ikan mimi atau wuwu.

Ikan mimi

Ndog mimi atau telur ikan mimi berasal dari ikan sejenis pari dengan cangkang keras lebar pipih yang biasanya didapat dari laut. Konon, ikan ini selalu berpasangan atau bertumpukan. Untuk mengambil telurnya, cukup dikeruk dari bagian bawah cangkangnya, biasanya dibuat urap dengan campuran kelapa parut atau dibuat pepes. Butiran telur ikan yang sedikit keras ini rasanya gurih enak, mirip seperti telur kepiting.

Untuk satu plastik kecil telur mimi di jual Rp 2.000 namun tidak jarang pedagang menjual secara utuh satu ekor mimi seharga Rp 10 -15 ribu.

Eits tapi harus extra hati2 ya guys dalam mengolah makanan ini kalo mau mengambil telur dalam perutnya, karena disinyalir apabila salah mengambilnya bisa keracunan loh, karena didalam perut hewan ini mengandung racun yang cukup mematikan..wuihhhhh ngeri juga yak. Nah penulis saranin kalo memang mau nyoba kuliner ini mending beli yang udah dalam bentuk telurnya aja, dipasar banyak kok yang menjual telur ini dalam bentuk kemasan.

Ikan Mimi

Nah Masyarakat kendal biasanya menyajikan kuliner Telur Mimi ini hanya untuk Buka Puasa tapi tidak jarang ada yang menyajikannya untuk saur juga, karena selain lezat konon makanan ini bisa membuat nafsu makan bagi anak-anak dimasa pertumbuhannya.

Naah, cukup bermanfaat jugakan guys!! Kalo mampir ke Kendal di saat bulan Ramadhan tidak ada salahnya untuk mencoba kuliner ini khan?? Hehe

Advertisements

Hari itu tepat pada tanggal 28 Januari 2013 pukul 4 (empat) subuh, saya bersama tim Pustaka Indonesia berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Walau pagi itu saya terlihat lelah karena sebelumnya harus mempersiapkan alat liputan terlebih dahulu sehingga waktu normal tidurpun berkurang, tapi rasa letih dan lelahpun terbayar sudah karena tidak lama lagi saya akan terbang kekota kebanggaan orang tuaku, yaah karena disanalah keluargaku berasal. salah satu kota tertua di bumi nusantara ini yang tak  lain adalah “Palembang

Selepas shalat subuh di Bandara akhirnya kamipun bergegas untuk masuk boarding gate dan dilanjutkan naik salah satu maskapai terbesar di Indonesia ini. 1 (satu) jam lamanya Deru mesin dari sayap Garuda mengantarkan perjalanan kami menuju kota yang terkenal dengan julukan kota pempeknya ini yang memiliki berbagai macam keindahan alam maupun budayanya. Salah satunya Jembatan Ampera yang hingga saat ini masih terbentang luas dan kokoh. Keberadaan jembatan tersebut sangat penting untuk menghubungkan daerah ulu dan ilir sehingga transportasi menjadi lancar dan otomatis juga memperlancar kehidupan ekonomi warganya.
 
Saya akan menyinggung sedikit mengenai jembatan ini, karena bagi saya selain jembatan ini merupakan Trade marknya kota Palembang ada kenangan dan kesan tersendiri saat saya melintasinya. Sebenarnya Jembatan Ampera ini merupakan hadiah dari Presiden RI pertama kita Bung Karno bagi masyarakat Palembang yang dananya diambil dari dana rampasan perang Jepang (juga untuk membangun Monas, Jakarta). Pada awalnya, jembatan sepanjang 1.177 meter dengan lebar 22 meter ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden Bung Karno yang secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi, namun Bung Karno mengganti namanya  agar tidak adanya kultur individu menjadi “Jembatan Ampera”  yang sesuai dengan fungsinya sebagai Amanat Penderitaan Rakyat yang pernah menjadi slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960-an.
 
Selain dibalik kemegahan dan kekokohan Jembatan Ampera ini, ada beberapa hal menarik untuk diceritakan dalam blog saya ini yang berkaitan dengan legenda dan sejarah, Bung karno dengan secara lantang pernah menyatakan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” karena sejarahlah kita bisa merdeka dan bisa berdiri bebas sekarang. 
 
Nah alangkah baiknya saya akan mengupas dan mengingatkan kembali mengenai sebuah legenda yang berkembang ditanah sumatra bagian selatan ini. Sejarah atau legenda yang akan kita bahas ini adalah “sipahit lidah dan mata empat” dan legenda “pulau kemaro”. Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya dan masih terdengar asing ditelinga, namun kedua legenda itu sudah terbilang melekat loh ditelinga warga Sumatra Selatan.
 
Mengenai legenda sipahit lidah cerita ini berkembang dibeberapa pelosok Sumatera Selatan, salah satunya berada di Desa Bukit Batu di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, dua tokoh sakti dari masa lampau ini khususnya kesaktian Si Pahit Lidah, yakni dia mampu menyumpah apa pun menjadi batu, termasuk manusia.
 
Legenda ini muncul lantaran di Sumatera Selatan banyak sekali ditemukan batu andesit berwujud manusia atau hewan. Benda-benda ini dalam versi arkeologi, merupakan artefak hasil dari kebudayaan Dataran Tinggi Bukit Barisan Pasemah yang tumbuh sekitar 2.000 tahun SM. Lokasi ini sangat dijaga masyarakat, sebab masyarakat percaya jika lokasi itu dirusak akan membawa malapetaka bagi warga sekitar.
 
Konon kisahnya, Si Pahit Lidah yang juga dikenal dengan nama Serunting Sakti, berkunjung ke wilayah Pampangan dan Tulung Selapan dari seberang lebak atau rawa yang luas. Si Pahit Lidah mendengar ramai masyarakat yang sedang melaksanakan pesta perkawinan. Dia pun berniat buat melihat atau datang ke acara perkawinan tersebut, tetapi dia tidak memiliki perahu.
 
Dia pun berulang kali memanggil warga dan hewan yang ada diseberang agar dapat menyeberangkannya. Tapi tidak ada yang menggubrisnya. Di puncak kekesalannya Si Pahit Lidah menyumpah apa yang ada diseberang, baik tengah berjalan maupaun tidak berjalan, menjadi batu.
 
Maka jadilah semua yang ada di wilayah itu menjadi batu, seperti gajah, lesung, pengantin, payung, dan lainnya. Sampai saat ini, hasil sumpah Si Pahit Lidah ini tetap ada di Desa Bukit Batu, seperti batu lesung, batu pengantin, batu gajah.
 
Jarak lokasi Bukit Batu dengan Kota Palembang sekitar 70 kilometer, kamipun memerlukan waktu sekitar  2,5 jam perjalanan, lebih lama satu jam seharusnya waktu bisa ditempuh cukup 1,5 jam kalau saja lokasi yang menuju lokasi ini jalanannya tidak berlubang, karena ketika kami kesana sangat disayangkan betapa sulit medan yang kami tempuh untuk menuju lokasi ini selain jalanan berlubang banyak kendaraan-kendaraan besar pengangkut hasil bumi turut ikut berpacu meramaikan perjalanan kami.
 
Terlepas soal itu, legenda tentang kesaktian Si Pahit Lidah tetap tumbuh di masyarakat di Sumatera Selatan hingga saat ini. Salah satu hasil dari legenda itu yakni objek wisata Bukit Batu atau Batu Gajah di Desa Bukit Batu, Kecamatan Panglan Lampam, Kabupaten OKI. Disini juga terletak makam yang dipercaya warga sekitar sebagai makam serunting sakti.
 
 
 

“.

Wartawan, journalist, art, palembang

Wartawan, journalist, art, palembang

Pahat batu

Patung ini cukup uniq karena didalam kepala budha terdapat beberapa kepala budhist yang sedang bertapa

Patung ini cukup uniq karena didalam kepala budha terdapat beberapa kepala budhist yang sedang bertapa

Proses pengerjaan pahat batua

Proses pengerjaan pahat batua

[/caption]
Salah satu lokasi untuk menikmati sunrise dengan pemandangan yang menakjubkan

Salah satu lokasi untuk menikmati sunrise dengan pemandangan yang menakjubkan

Establish candiimageCandi Borobudur

Diambil saat melakukan peliputan tentang sejarah candi borobudur

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu candi termegah yang ada di Indonesia bahkan didunia loh berdasarkan Guinnes World Records yang berpusat di London candi ini merupakan yang terluas yang ada di dunia, yah tidak lain candi itu adalah “Candi Borobudur”.

Candi yang dibangun dengan 60 ribu meter kubik struktur bebatuan dengan tinggi 34,5 m (113 kaki) dan kerangka dasarnya berukuran 123×123 sudah menjadi situs warisan dunia oleh UNESCO. Kemegahan Candi Borobudur akan membuat semua orang takjub. Akan tetapi, tahukah Anda bagaimana Candi Borobudur dibangun dan ajaran di dalamnya?

Candi Borobudur adalah Candi Buddha terbesar yang dibangun pada abad ke-8 oleh Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Candi borobudur terletak di Magelang, atau sekitar 40 km dari Yogyakarta. Bagi para traveler, Candi Borobudur adalah objek wisata yang menarik dan unik. Selain mengagumi arsitekturnya, Candi Borobudur adalah tempat yang sempurna untuk melihat sunrise dan sunset.

Candi ini memiliki 1 stupa induk, 72 stupa terawang dan 504 patung Budha. Selain itu, ada ribuan relief yang tersusun dalam panel-panel di Candi Borobudur, yang menggambarkan kisah, agama, atau pun sejarah dari masa lampau.

Candi Borobudur memiliki 10 tingkat dan 3 tingkatan dari ajaran agama Buddha. 3 tingkatan tersebut yakni, tingkatan pertama Kamadhatu atau dunia nafsu. Di tingkatan ini manusia masih dipengaruhi oleh nafsu dan hal-hal negatif. Tingkatan kedua, Rupadhatu atau dunia terbentuk, yang artinya manusia telah mampu mengendalikan dirinya dari segala nafsu. Tingkatan terakhir, Arudaphatu atau dunia tanpa bentuk, yang berarti, manusia tidak lagi mengejar keinginan-keinginan manusiawi.

Konon, Candi Borobudur dibangun selama lebih dari 50 tahun! Arsitek yang merancangnya adalah Gunadharma. Dibutuhkan lebih dari 2 juta balok batu vulkanik untuk membangun Candi Borobudur. Batu-batu tersebut, diambil dari sungai yang berada di sekitar Candi Borobudur. Uniknya, saat itu mereka tidak menggunakan lem perekat, semen, atau sejenisnya. Teknik yang menarik untuk mengunci bebatuan tersebut menjadi rekat dan tahan selama berabad-abad adalah ‘Kunci L’.

Perhatikanlah setiap pijakan Anda di Candi Borobudur. Bebatuannya tidak berbentuk seperti keramik yang tersusun kotak-kotak. AKan tetapi, bebatuannya membentuk huruf ‘L’. Sebuah metode luar biasa yang telah ditemukan berabad-abad silam.

Tanah sebagai pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah asli dan tanah urug atau buatan. Pembuatan tanah urug disesuaikan dengan bentuk candi. Perhitungan setiap inci pembangunan candi pun dilakukan dengan tepat dan akurat. Maka dari itu, Gunadharma bisa dibilang sebagai arsitek yang handal sekaligus ilmuwan fisika yang jenius.

Ada yang mengatakan, pembuatan Candi Borobudur dibantu oleh mahluk luar angkasa atau alien. Akan tetapi, pembuatan Candi Borobudur lebih mengarah kepada ilmu pengetahuan yang menakjubkan. Teknologi pembuatan Candi Borobudur di masa lampau, menjadi bukti betapa hebatnya bangsa ini.

Silakan berkunjung ke Candi Borobudur, untuk melihat keindahannya, ajaran-ajaran di dalamnya, serta mempelajari bentuk bangunannya yang sempurna.