Hari itu tepat pada tanggal 28 Januari 2013 pukul 4 (empat) subuh, saya bersama tim Pustaka Indonesia berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Walau pagi itu saya terlihat lelah karena sebelumnya harus mempersiapkan alat liputan terlebih dahulu sehingga waktu normal tidurpun berkurang, tapi rasa letih dan lelahpun terbayar sudah karena tidak lama lagi saya akan terbang kekota kebanggaan orang tuaku, yaah karena disanalah keluargaku berasal. salah satu kota tertua di bumi nusantara ini yang tak  lain adalah “Palembang

Selepas shalat subuh di Bandara akhirnya kamipun bergegas untuk masuk boarding gate dan dilanjutkan naik salah satu maskapai terbesar di Indonesia ini. 1 (satu) jam lamanya Deru mesin dari sayap Garuda mengantarkan perjalanan kami menuju kota yang terkenal dengan julukan kota pempeknya ini yang memiliki berbagai macam keindahan alam maupun budayanya. Salah satunya Jembatan Ampera yang hingga saat ini masih terbentang luas dan kokoh. Keberadaan jembatan tersebut sangat penting untuk menghubungkan daerah ulu dan ilir sehingga transportasi menjadi lancar dan otomatis juga memperlancar kehidupan ekonomi warganya.
 
Saya akan menyinggung sedikit mengenai jembatan ini, karena bagi saya selain jembatan ini merupakan Trade marknya kota Palembang ada kenangan dan kesan tersendiri saat saya melintasinya. Sebenarnya Jembatan Ampera ini merupakan hadiah dari Presiden RI pertama kita Bung Karno bagi masyarakat Palembang yang dananya diambil dari dana rampasan perang Jepang (juga untuk membangun Monas, Jakarta). Pada awalnya, jembatan sepanjang 1.177 meter dengan lebar 22 meter ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden Bung Karno yang secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi, namun Bung Karno mengganti namanya  agar tidak adanya kultur individu menjadi “Jembatan Ampera”  yang sesuai dengan fungsinya sebagai Amanat Penderitaan Rakyat yang pernah menjadi slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960-an.
 
Selain dibalik kemegahan dan kekokohan Jembatan Ampera ini, ada beberapa hal menarik untuk diceritakan dalam blog saya ini yang berkaitan dengan legenda dan sejarah, Bung karno dengan secara lantang pernah menyatakan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” karena sejarahlah kita bisa merdeka dan bisa berdiri bebas sekarang. 
 
Nah alangkah baiknya saya akan mengupas dan mengingatkan kembali mengenai sebuah legenda yang berkembang ditanah sumatra bagian selatan ini. Sejarah atau legenda yang akan kita bahas ini adalah “sipahit lidah dan mata empat” dan legenda “pulau kemaro”. Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya dan masih terdengar asing ditelinga, namun kedua legenda itu sudah terbilang melekat loh ditelinga warga Sumatra Selatan.
 
Mengenai legenda sipahit lidah cerita ini berkembang dibeberapa pelosok Sumatera Selatan, salah satunya berada di Desa Bukit Batu di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, dua tokoh sakti dari masa lampau ini khususnya kesaktian Si Pahit Lidah, yakni dia mampu menyumpah apa pun menjadi batu, termasuk manusia.
 
Legenda ini muncul lantaran di Sumatera Selatan banyak sekali ditemukan batu andesit berwujud manusia atau hewan. Benda-benda ini dalam versi arkeologi, merupakan artefak hasil dari kebudayaan Dataran Tinggi Bukit Barisan Pasemah yang tumbuh sekitar 2.000 tahun SM. Lokasi ini sangat dijaga masyarakat, sebab masyarakat percaya jika lokasi itu dirusak akan membawa malapetaka bagi warga sekitar.
 
Konon kisahnya, Si Pahit Lidah yang juga dikenal dengan nama Serunting Sakti, berkunjung ke wilayah Pampangan dan Tulung Selapan dari seberang lebak atau rawa yang luas. Si Pahit Lidah mendengar ramai masyarakat yang sedang melaksanakan pesta perkawinan. Dia pun berniat buat melihat atau datang ke acara perkawinan tersebut, tetapi dia tidak memiliki perahu.
 
Dia pun berulang kali memanggil warga dan hewan yang ada diseberang agar dapat menyeberangkannya. Tapi tidak ada yang menggubrisnya. Di puncak kekesalannya Si Pahit Lidah menyumpah apa yang ada diseberang, baik tengah berjalan maupaun tidak berjalan, menjadi batu.
 
Maka jadilah semua yang ada di wilayah itu menjadi batu, seperti gajah, lesung, pengantin, payung, dan lainnya. Sampai saat ini, hasil sumpah Si Pahit Lidah ini tetap ada di Desa Bukit Batu, seperti batu lesung, batu pengantin, batu gajah.
 
Jarak lokasi Bukit Batu dengan Kota Palembang sekitar 70 kilometer, kamipun memerlukan waktu sekitar  2,5 jam perjalanan, lebih lama satu jam seharusnya waktu bisa ditempuh cukup 1,5 jam kalau saja lokasi yang menuju lokasi ini jalanannya tidak berlubang, karena ketika kami kesana sangat disayangkan betapa sulit medan yang kami tempuh untuk menuju lokasi ini selain jalanan berlubang banyak kendaraan-kendaraan besar pengangkut hasil bumi turut ikut berpacu meramaikan perjalanan kami.
 
Terlepas soal itu, legenda tentang kesaktian Si Pahit Lidah tetap tumbuh di masyarakat di Sumatera Selatan hingga saat ini. Salah satu hasil dari legenda itu yakni objek wisata Bukit Batu atau Batu Gajah di Desa Bukit Batu, Kecamatan Panglan Lampam, Kabupaten OKI. Disini juga terletak makam yang dipercaya warga sekitar sebagai makam serunting sakti.
 
 
 

“.

Wartawan, journalist, art, palembang

Wartawan, journalist, art, palembang

Advertisements